Portrait of Adele Bloch-Bauer 1 (1907) by Gustav Klimt Penipu Terpandai Puan bisa mencintaimu ribuan kali Menusuki diri dengan kebodohan yang nikmat Membawa gusarnya bersamakecipak langkah di lembah resah Meringkihkan kaki, bergantian menabuh tilam, menguda liar Lentik jemari berulang-ulang menelisik cahaya pada layar menunggu umpan mana yang akan termakan Semua perempuan pernah jadi putri malu minimal sekali Pun maksimal telan pil kebucinan Sayangnya tak pernah ada repetisi Karena ketulusan seringkali menghambur tanpa ketuk permisi Potret ketat terbingkai menolakmu Muncul berkali selimuti wajah baru Sialnya, puan enggan mengadu Soal wajahmu bukan wajahmu Jangan terheran, semua perempuan adalah yang terpandai soal menipu Konon bai’at terkudus perempuan ada pada kanon-kanon bisu. (Depok, 2023) Rumah Pertama Katamu, hanya anjing yang menjilat tungkai Rostchild Sebab manusia ditakdirkan melaut ke dalam tanah Menukar otaknya dengan nampan sederhana Sekadar cukup mengaliri getir ...
Ilustrasi: Moch Aldy MA/Omong-Omong Harap Gersang Di dalam jantung kapitalisme Setiap tubuh adalah fetisisme komoditas Pekerja dan mata dagangan yang tak selaras Perlahan teralienasi dari cetak biru organik Pindailah hari, Ramai manusia kehilangan kemanusiaannya Terjebak labirin abreaksi Lalu… Produksi kepemilikan komunal, keadilan distribusi, tenggelamnya per-kasta-an Seakan doa dalam harapan gersang Diam-diam riuh pemuja konformitas rela melahap martabatnya agar bisa kenyang (Depok, 2022) Hidup Impor! Di zamrud khatulistiwa Tubuh manusia diukur dengan literan beras Sementara khazanah pangan kita masih luas Sesungguhnya beras, hanyalah sebentuk akselerasi kelas Yang dieja peluang pemangku kebijakan Sang proklamator pernah berbisik lewat Mustikarasa Tololnya, dari seribu generasi, yang baca hanya tiga Sekisah historis kelam mendadak bara 2015-2020 bukanlah tahun kecintaan para dewa 400 ribu lahan pertanian tersedot lubang hitam 2 juta ton beras menjelma pupus harapan ...