Portrait of Adele Bloch-Bauer 1 (1907) by Gustav Klimt Penipu Terpandai Puan bisa mencintaimu ribuan kali Menusuki diri dengan kebodohan yang nikmat Membawa gusarnya bersamakecipak langkah di lembah resah Meringkihkan kaki, bergantian menabuh tilam, menguda liar Lentik jemari berulang-ulang menelisik cahaya pada layar menunggu umpan mana yang akan termakan Semua perempuan pernah jadi putri malu minimal sekali Pun maksimal telan pil kebucinan Sayangnya tak pernah ada repetisi Karena ketulusan seringkali menghambur tanpa ketuk permisi Potret ketat terbingkai menolakmu Muncul berkali selimuti wajah baru Sialnya, puan enggan mengadu Soal wajahmu bukan wajahmu Jangan terheran, semua perempuan adalah yang terpandai soal menipu Konon bai’at terkudus perempuan ada pada kanon-kanon bisu. (Depok, 2023) Rumah Pertama Katamu, hanya anjing yang menjilat tungkai Rostchild Sebab manusia ditakdirkan melaut ke dalam tanah Menukar otaknya dengan nampan sederhana Sekadar cukup mengaliri getir ...
Hanya pada diam dan dengar, aku bisa melihat padma. Kelopak bunga merekah sudah.