Langsung ke konten utama

Nihilis Jenaka

 

   Remake of “La Femme qui pleure” (1937) - Pablo Picasso by Moch Aldy MA/Omong-Omong


Nihilis Jenaka

Aku memindaimu dibangkitkan kali kedua—lewat tubuh seorang nihilis muda dengan tato di lehernya

amor fati, lukisnya

Segaris denganmu, IQ-nya mendadak 200+ pasca kehilangan twinflame-nya

Bertopeng komikal agar tak terlihat paling menggelegar

Dan Rawi tumpah di kepalanya kala dia mulai berisik tentang raksi Qada dan Qadar

Aku memuisikannya, Pena-nya adalah gong kebangkitan peran gandaku

Sketsa-nya adalah empat kaki Thoroughbred yang meringkik vokal:

Perempuan halal memimpikan apa saja, bahkan setelah menjadi ibu!

merci mille fois!

(Depok, 2022)

Sekotak Demotivasi       

Seorang optimis mendayungkan sampan ke puncak magenta—menjaring ikan dari mangata ke angkasa

Poseidon menghadang, meludahinya sedikit khotbah, lalu membekalinya sekotak demotivasi bertuliskan mantra dari pena bulu Angsa:

Yang melekat akan kalah sebelum menyentuh galah

Yang menerbangkan mimpi hanya berteman dengan nyalak anjing di malam sepi

Hiduplah renjana, setenang arus membisik muara

(Depok, 2022)

Chipko Ba’

Lima belas Kamariah ini, mari kita berchipko ba’—memeluk pohon dengan nyawa bak Hindu Bisnoi India, meski buldoser pelindis hutan sejengkal dari garis netra

Sungguh balada memindai alam dan manusia lampau saling rasa—tatkala jutaan penganut modernisme mendadak omen berjuta muka, dan aku senada lisong nirnyala

Secubit injeksi untuk neuron dan dendrit, rasanya boleh ya?

Ataukah setitik kebangsatan agar telingaku tak mudah menerima bisikan

Ataukah segelas besar apatisme karena overdosis altruisme menyingsing mati muda

Ataukah sepiring elegi seperti gelak Cioran dan aliansinya

Ataukah sebaris kidung one sheep… two sheep… three sheep

Hingga korneaku terbenam tak bersisa

(Depok-2022)

Elegi dalam Amplop Sukacita

Matsuri terhampar membelah julang sakura, ramai punggung mengepak ria

Okame… itu Okame!

Euonia riang menggema

Okame menapak seringkih sutra, pipi gemuknya memucat surai

Cahaya kamera padang bersahutan—para madewi kegirangan memindai

Tersurat aksara prasasti terpendam, Hsshh! Okame itu representasi ketololan patriarki—tentang istri yang menghabisi diri tuk baktinya pada suami

Okame… itu Okame!

Para madewi terperosok mariana kebutaan, persis pandir gegap-gempita sejarah kebangsaan

(Depok, 2022)

10 Jari Kecil di Darul Hayawan

Harusnya kau berbaris berbalut merah putih—namun kau lintuh-rintih

Swastamita rautmu kala kutanya, singkat, tak ada biaya

Kuberanikan lagi menyoal,

Ramanda-mu seleweng selatan, Biyung-mu serong utara, Adingmu dua, dan status barumu, kepala keluarga

Kau menagak remah tersipu—menilik tapak tanganmu

Sepuluh jari lidimu kelam abu, semir dan berus adalah karibmu

Kerdilku kembali mengganjil, kusodorkan prospektus beasiswa—bukan GNOTA

Matamu memicing hina sambil bermadah

Jika aku ke sana, zuriahku mengaum lapar terkapar sia

Bukankah Darul-Hayawan dijanjikan untuk orang tersiksa-maka di sinilah, Arunika-ku berdansa sepuasnya

(Surabaya, 2016)


Puisi  ini telah terbit di media omong-omong https://omong-omong.com/nihilis-jenaka-dan-puisi-lainnya/


(Surabaya, 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harap Gersang dan Puisi lainnya

  Ilustrasi: Moch Aldy MA/Omong-Omong Harap Gersang Di dalam jantung kapitalisme Setiap tubuh adalah fetisisme komoditas Pekerja dan mata dagangan yang tak selaras Perlahan teralienasi dari cetak biru organik Pindailah hari, Ramai manusia kehilangan kemanusiaannya Terjebak labirin abreaksi Lalu… Produksi kepemilikan komunal, keadilan distribusi, tenggelamnya per-kasta-an Seakan doa dalam harapan gersang Diam-diam riuh pemuja konformitas rela melahap martabatnya agar bisa kenyang (Depok, 2022) Hidup Impor!  Di zamrud khatulistiwa Tubuh manusia diukur dengan literan beras Sementara khazanah pangan kita masih luas Sesungguhnya beras, hanyalah sebentuk akselerasi kelas Yang dieja peluang pemangku kebijakan Sang proklamator pernah berbisik lewat  Mustikarasa Tololnya, dari seribu generasi, yang baca hanya tiga Sekisah historis kelam mendadak bara 2015-2020 bukanlah tahun kecintaan para dewa 400 ribu lahan pertanian tersedot lubang hitam 2 juta ton beras menjelma pupus harapan ...

Algojo Perambutan dan puisi lainnya

  (Ilustrasi: Moch Aldy MA) Algojo Perambutan Di suatu negri bernama Aryan Hiduplah aliansi algojo moral bertentakel Saban hari hilir mudik melicin ke danau menenteng sepuluh ember berisi rambut perempuan Tiap tahun, debit rambut danau itu makin meninggi Seiring makin banyaknya perempuan diopresi Gunduli atau tutupi!!! Arab Spring  belum lama meledak Polarisasi masyarakat dan konflik horizontal bergejolak Lalu privasi keperempuanan adalah titik yang pertama ditombak Teks perambutan direbus tanpa bisa ditolak Rasanya Picasso harus dibangkitkan dari tidur panjang Kali ini  Guernica  harus dipenuhi potret rambut perempuan Karena segala pasungan pada ekspresi perempuan adalah perang! (Depok, 2022) ( Puisi ini kupersembahkan untuk mahsa amini, perempuan yang menjadi tumbal jilbabisasi paksa di iran). Kematiannya adalah bentuk ketidakberdayaan pemeluk pada toleransi – Puan dan Pembongkaran Puan … Orang bilang adnan bertengger di pelaminan Tapi, mengapa setelahnya kau dipor...