Langsung ke konten utama

Algojo Perambutan dan puisi lainnya

 

(Ilustrasi: Moch Aldy MA)


Algojo Perambutan

Di suatu negri bernama Aryan
Hiduplah aliansi algojo moral bertentakel
Saban hari hilir mudik melicin ke danau menenteng sepuluh ember berisi rambut perempuan
Tiap tahun, debit rambut danau itu makin meninggi
Seiring makin banyaknya perempuan diopresi

Gunduli atau tutupi!!!

Arab Spring belum lama meledak
Polarisasi masyarakat dan konflik horizontal bergejolak
Lalu privasi keperempuanan adalah titik yang pertama ditombak
Teks perambutan direbus tanpa bisa ditolak

Rasanya Picasso harus dibangkitkan dari tidur panjang
Kali ini Guernica harus dipenuhi potret rambut perempuan
Karena segala pasungan pada ekspresi perempuan adalah perang!

(Depok, 2022)

( Puisi ini kupersembahkan untuk mahsa amini, perempuan yang menjadi tumbal jilbabisasi paksa di iran). Kematiannya adalah bentuk ketidakberdayaan pemeluk pada toleransi

Puan dan Pembongkaran

Puan …
Orang bilang adnan bertengger di pelaminan
Tapi, mengapa setelahnya kau diporandakan di ubin beku sangkar pesakitan?
enam biji mata yang kau telan tanpa sesal
mengundang cibir mulut jahanam
perempuan miskin iman!
Perempuan setan!

Guillotine … Guillotine!

Puan …
Kau yang dinarasikan bak setan beribu belati
Harus ditali agar tak tercium bau terasi
Jangan kecut hati!
Kabarnya para tiran itu gemetar jika sambal uleg bisa jadi alat persekusi
Ingat-ingatlah ini supaya baramu tak mati
Soal ketidakadilan ekonomi, diskriminasi upeti
Kungkungan seksual, dilarang berteriak saat orgasme ke langit tinggi
Kedurhakaan politik, antibersebrangan dengan suami
Pembatasan berkespresi, dibungkus rapat agar tak mengundang berahi

Tetap berkibarlah puan,
Kita yang terik ini tengah terengah
di medan bilangan
Tetap defensif dalam barisan
Sang Rububiah mengaruniai kita lisan
Bersiaplah ‘tuk detik pembongkaran!

(Depok, 2022)

Duniaku (Bukan) Mitologi Skandinavia

Sebanyak titik air menggelayut di ujung rumput selepas sendu
Sepalung itu aku padamu
Sipu bukan lagi serabut akar di neuronku
Hanya kembang api yang melebur bersama titik pandir
Menghapus garis batas takdir
Ah, minggir!

Rasuk ini ‘kan kuhabisi sampai ke pinggir …

Rindu lagi-lagi menggulung semena
Menebar jaring buntu di telinga
Membisukan netra sampai buta
Diam-diam memangsa
Oh inikah …
Semenjana yang merindukan Dewa
Majnun yang mendamba Laila
Rahwana yang ingin mengawini Sinta

Cih … Bangun! Terjaga!
Tak ada masa mereguk cinta
Duniamu tak sesederhana Mitologi Skandinavia
Duniamu adalah Zamrud masyhur yang dulu dibangun dengan taring singa

Dulu…
Sebelum jutaan cecurut berbau merangsek dari Kelimutu
Bermulut nanah berkubang kutu
Tak henti menyedot urat rakyat sampai biru
Menyebar devide et impera lewat layar berpaku

Bangun! Terjaga!
Meski dilabeli revolusioner antikemapanan
Meski isi sakumu hanya segelas wedang cor dan sebungkus ketan
Setidaknya kau bukan cecurut bertopeng paling beriman

(Surabaya, 2017)

Ilusi Hidup Merdeka

Jika merdeka adalah bisa menggoreng diiringi goyangan dangdut pantura
Maka belum merdeka kita
Liliput penjaja bala-bala dan penikmat bedak viva nomer lima
samar masih mencicit dan mengutuk meski tetap dibelinya

Jika merdeka artinya terbeli BBM murah
lagi-lagi merdeka adalah psylocibin di atas tahi-tahi domba
Romusha pabrik domestik masih misuh
Jatah susu bayi disedot mulut tangki roda dua

Jika merdeka adalah mengkrik-krik di semua zona
Cih … merdeka adalah setetes kaliandra di segelas jamu daun dewa
Komen di akun pejabat negara
Salah ketik tanda baca saja, habis kau dilalap militan dan buzzer-nya

Jika merdeka adalah bebas mencinta
Hihihi sungguh jauh dari kata merdeka
Masih dianggap tabu kalau perempuan memintal hatinya jadi dua (eh)

(Depok, 2022)

Sesachet Susu untuk Cucu

Seribu …
Tiga Ribu …
Lima Ribu …
Seperti siput dimasukkan upeti ke dalam kutangnya
Bibirnya tipis melebar syukurnya melangit
Ada uang seharga satu sachet susu untuk cucunya
Terseok jari kakinya mencari lubang terompah
Tak boleh tertukar
Sebab lepas ini empat kilometer harus ditempuhnya

Seribu …
Tiga Ribu …
Lima Ribu …
Secepat citah ia muntahkan upeti dari kutangnya
Disandarkan punggung bungkuknya
Kursi pentil tua amblas menelannya
Butiran kedelai peluhnya
Diseka semangat empat-lima
Anak dari anak kandungnya tergopoh memeluknya
Diciumnya bau asam kepala bocah di depannya
Cu … tenggelamnya anak dan menantuku dalam egoismenya
Tak menghentikanku menggendongmu ke Roma

(Jaksel, 2020)

Puisi ini telah terbit di omong-omong.com pada 3 oktober 2002 https://omong-omong.com/algojo-perambutan-dan-puisi-lainnya/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nihilis Jenaka

      Remake of “La Femme qui pleure” (1937) - Pablo Picasso by Moch Aldy MA/Omong-Omong Nihilis Jenaka Aku memindaimu dibangkitkan kali kedua—lewat tubuh seorang nihilis muda dengan tato di lehernya amor fati,  lukisnya Segaris denganmu, IQ-nya mendadak 200+ pasca kehilangan  twinflame- nya Bertopeng komikal agar tak terlihat paling menggelegar Dan Rawi tumpah di kepalanya kala dia mulai berisik tentang raksi Qada dan Qadar Aku memuisikannya, Pena-nya adalah gong kebangkitan peran gandaku Sketsa-nya adalah empat kaki  Thoroughbred  yang meringkik vokal: Perempuan halal memimpikan apa saja, bahkan setelah menjadi ibu! merci mille fois! (Depok, 2022) – Sekotak Demotivasi        Seorang optimis mendayungkan sampan ke puncak magenta—menjaring ikan dari mangata ke angkasa Poseidon menghadang, meludahinya sedikit khotbah, lalu membekalinya sekotak demotivasi bertuliskan mantra dari pena bulu Angsa: Yang melekat akan k...

Harap Gersang dan Puisi lainnya

  Ilustrasi: Moch Aldy MA/Omong-Omong Harap Gersang Di dalam jantung kapitalisme Setiap tubuh adalah fetisisme komoditas Pekerja dan mata dagangan yang tak selaras Perlahan teralienasi dari cetak biru organik Pindailah hari, Ramai manusia kehilangan kemanusiaannya Terjebak labirin abreaksi Lalu… Produksi kepemilikan komunal, keadilan distribusi, tenggelamnya per-kasta-an Seakan doa dalam harapan gersang Diam-diam riuh pemuja konformitas rela melahap martabatnya agar bisa kenyang (Depok, 2022) Hidup Impor!  Di zamrud khatulistiwa Tubuh manusia diukur dengan literan beras Sementara khazanah pangan kita masih luas Sesungguhnya beras, hanyalah sebentuk akselerasi kelas Yang dieja peluang pemangku kebijakan Sang proklamator pernah berbisik lewat  Mustikarasa Tololnya, dari seribu generasi, yang baca hanya tiga Sekisah historis kelam mendadak bara 2015-2020 bukanlah tahun kecintaan para dewa 400 ribu lahan pertanian tersedot lubang hitam 2 juta ton beras menjelma pupus harapan ...