Langsung ke konten utama

Penipu Terpandai dan puisi lainnya



 Penipu Terpandai

Puan bisa mencintaimu ribuan kali
Menusuki diri dengan
kebodohan yang nikmat
Membawa gusarnya bersamakecipak langkah di lembah resah
Meringkihkan kaki, bergantian
menabuh tilam, menguda liar
Lentik jemari berulang-ulang
menelisik cahaya pada layar
menunggu umpan mana
yang akan termakan

Semua perempuan pernah
jadi putri malu minimal sekali
Pun maksimal telan pil kebucinan

Sayangnya tak pernah ada repetisi
Karena ketulusan seringkali
menghambur tanpa ketuk permisi

Potret ketat terbingkai menolakmu
Muncul berkali selimuti wajah baru
Sialnya, puan enggan mengadu
Soal wajahmu bukan wajahmu

Jangan terheran, semua perempuan
adalah yang terpandai soal menipu
Konon bai’at terkudus perempuan
ada pada kanon-kanon bisu.

(Depok, 2023)


Rumah Pertama

Katamu, hanya anjing yang menjilat tungkai Rostchild
Sebab manusia ditakdirkan melaut ke dalam tanah
Menukar otaknya dengan nampan sederhana
Sekadar cukup mengaliri getir faring
juga pengganjal nafsu

Tubuh harus disiplin dalam penderitaan kudus, agar merah setia pada bara
Enggan meredup meski FOMO menebar jala berlubang
Bak cicak meniup api Ibrahim
Merunduk…
Lidah debt collector tak selegit kondom aneka rasa

Tempat bersandar ini memang tak lebar
Namun cukup untuk bertukar kebodohan jenaka rahasia
Ada sansevieria moonshine, bergerak bisu menyerap mantra
Ada syukur, sebab jatuh tempo bukan ahriman di dua mata.

(Depok-2023)

Tikus-Tikus dalam Cerita Hidupmu

Tikus pemahat dendam kesumat yang meresapi pori kepalamu
Nyatanya pengolah limbah yang ikhlas
Entah kapan bermula
Tikus gemar mengunyah kaleng dan plastik
Apakah sejak warta krisis ekologi menyeruak atau sejak kau sakau hoarding disorder?
Yang teringat sebening kaca, kau pernah berkisah
Tentang tikus penghuni gorong-gorong—penyemai cacar pada kulitmu,
Yang butuh seabad lamanya memirsa bandrol barang—sebelum memindahkannya dari etalase ke pangkuanmu

Sejak dulu…
Kau menggilai tikus beroda genap ganda
Beraroma Clive Christian “C”
Hobi menggesek—jua gemar membagikan potongan kecil dadanya—sama rata

Pada lautan betina
Juga padamu
Tololnya,
Kau mau!

(Depok, 2023)

Perempuan di Medan Pertempuran

Netra terpejam menggigit kembang mawar
Menyalak bisu di sudut patileman
Dua sulurnya terkangkang ke gharbun dan syaqrun

Lonceng telah mewarta
Tiba masa, akar memenggal tanah yang sembilan bulan memberinya tumpangan
Sebelum katastrofi tiba
Menerbangkan lampion berasmakan “ibu”

Jiwa segar bermandi darah menelungkup di atas dua buah loofah
Memahat kuku lentur pada kegelian
Mengisap rakus nyawa pertama puan
Corong mukanya menolak kesudahan
Mereguk rakus kehidupan yang dulu hanya bisa dilukis dalam gelap rahim

Misi suci menolak usai
Ejanan kedua berkumandang, embuni menuntut dilahirkan
Separuh hayat kembali terhempas ke awang-awang
Seketika rupa-rupa kembang menghujani teriakan
Meminta angin menerbangkan embun kelelahan

Tiada sesal, meski kesakitan adalah tambal sulam
Kelahiran adalah perayaan.

(Depok, 2023)

Makna

Rautmu seluas padang tundra
Dan aku gugusan lumut yang menghias cekang agar kau tetap jadi hutan hujan
Kau tanpaku, adalah Mariana tanpa Macropinna Microstoma
Namun ketololan gemar terlambat, bukan?

Segurat senyum yang kukira janin ketersalingan
Hanyalah jejak kondensasi burung malam
Kakimu bergerak gelisah,
Tak nyaman rupanya, kala kutenun kata di depan netra
Kau mulai murka, aku keracunan fonik, keluhmu

Pengabaian berpasung jeruji pengasingan
Telah tertiup lewat anak gelang di jari manisku
Kau bilang, itu cara mengurai sampah rumah tangga

Jika kejenuhan menjelma buta yang menolak terima donor kornea
Belahlah langit kita jadi dua
Terbang dan aku adalah makna.

(Jaksel, 2019)

Puisi ini telah terbit di media omong-omong https://omong-omong.com/penipu-terpandai-dan-puisi-lainnya/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nihilis Jenaka

      Remake of “La Femme qui pleure” (1937) - Pablo Picasso by Moch Aldy MA/Omong-Omong Nihilis Jenaka Aku memindaimu dibangkitkan kali kedua—lewat tubuh seorang nihilis muda dengan tato di lehernya amor fati,  lukisnya Segaris denganmu, IQ-nya mendadak 200+ pasca kehilangan  twinflame- nya Bertopeng komikal agar tak terlihat paling menggelegar Dan Rawi tumpah di kepalanya kala dia mulai berisik tentang raksi Qada dan Qadar Aku memuisikannya, Pena-nya adalah gong kebangkitan peran gandaku Sketsa-nya adalah empat kaki  Thoroughbred  yang meringkik vokal: Perempuan halal memimpikan apa saja, bahkan setelah menjadi ibu! merci mille fois! (Depok, 2022) – Sekotak Demotivasi        Seorang optimis mendayungkan sampan ke puncak magenta—menjaring ikan dari mangata ke angkasa Poseidon menghadang, meludahinya sedikit khotbah, lalu membekalinya sekotak demotivasi bertuliskan mantra dari pena bulu Angsa: Yang melekat akan k...

Harap Gersang dan Puisi lainnya

  Ilustrasi: Moch Aldy MA/Omong-Omong Harap Gersang Di dalam jantung kapitalisme Setiap tubuh adalah fetisisme komoditas Pekerja dan mata dagangan yang tak selaras Perlahan teralienasi dari cetak biru organik Pindailah hari, Ramai manusia kehilangan kemanusiaannya Terjebak labirin abreaksi Lalu… Produksi kepemilikan komunal, keadilan distribusi, tenggelamnya per-kasta-an Seakan doa dalam harapan gersang Diam-diam riuh pemuja konformitas rela melahap martabatnya agar bisa kenyang (Depok, 2022) Hidup Impor!  Di zamrud khatulistiwa Tubuh manusia diukur dengan literan beras Sementara khazanah pangan kita masih luas Sesungguhnya beras, hanyalah sebentuk akselerasi kelas Yang dieja peluang pemangku kebijakan Sang proklamator pernah berbisik lewat  Mustikarasa Tololnya, dari seribu generasi, yang baca hanya tiga Sekisah historis kelam mendadak bara 2015-2020 bukanlah tahun kecintaan para dewa 400 ribu lahan pertanian tersedot lubang hitam 2 juta ton beras menjelma pupus harapan ...

Algojo Perambutan dan puisi lainnya

  (Ilustrasi: Moch Aldy MA) Algojo Perambutan Di suatu negri bernama Aryan Hiduplah aliansi algojo moral bertentakel Saban hari hilir mudik melicin ke danau menenteng sepuluh ember berisi rambut perempuan Tiap tahun, debit rambut danau itu makin meninggi Seiring makin banyaknya perempuan diopresi Gunduli atau tutupi!!! Arab Spring  belum lama meledak Polarisasi masyarakat dan konflik horizontal bergejolak Lalu privasi keperempuanan adalah titik yang pertama ditombak Teks perambutan direbus tanpa bisa ditolak Rasanya Picasso harus dibangkitkan dari tidur panjang Kali ini  Guernica  harus dipenuhi potret rambut perempuan Karena segala pasungan pada ekspresi perempuan adalah perang! (Depok, 2022) ( Puisi ini kupersembahkan untuk mahsa amini, perempuan yang menjadi tumbal jilbabisasi paksa di iran). Kematiannya adalah bentuk ketidakberdayaan pemeluk pada toleransi – Puan dan Pembongkaran Puan … Orang bilang adnan bertengger di pelaminan Tapi, mengapa setelahnya kau dipor...